1. 1.096 Petugas Gabungan Kawal Aksi Aliansi Rakyat Aceh
Subusallam – 1.096 Petugas Gabungan ratusan warga bersama mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Aceh melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) di Banda Aceh. Aksi ini menyoroti evaluasi kebijakan publik, penegakan HAM, dan sejumlah kritik terhadap ketegasan pemerintah terhadap rakyatnya. Situasi semakin serius ketika massa memadati Jalan Daud Beureueh hingga membuat lalu lintas lumpuh total
Untuk memastikan aksi berjalan damai dan tertib, 1.096 petugas gabungan TNI dan Polri serta 150 anggota Satpol PP diterjunkan. Kehadiran mereka menciptakan poros pengamanan tegas di lokasi aksi
2. Aksi Kondusif, Dialog Terbuka: DPR Aceh Sambut Aspirasi Massa
Meski jumlah personel sangat besar, aksi tetap berlangsung dalam koridor damai. Massa sempat menggelar orasi dan duduk di halaman depan Gedung DPRA dengan tertibPimpinan DPR Aceh—Zulfadli—beserta sejumlah anggota legislatif dan Kapolda Aceh, Brigjen Pol Marzuki Ali Basyah, menyambut para pendemo. Mereka membuka dialog, mendengar tuntutan, hingga pada akhirnya menandatangani petisi yang dibacakan oleh pendemo
Baca Juga:Situasi tak Kondusif, BEM SI Tunda Aksi di Jakarta, Siapkan Demo Susulan Besok
3. Perspektif Keseimbangan: Guncangan atau Stabilitas?
Sudut keamanan: Penugasan lebih dari seribu personel menegaskan pentingnya stabilitas dan antisipasi risiko dalam unjuk rasa berskala besar. Kehadiran TNI, Polri, dan Satpol PP tidak hanya sebagai simbol kekuatan, tetapi juga kontrol preventif
Sudut kemanusiaan dan dialog: Respon DPR Ace—yang secara langsung menjumpai dan menandatangani petisi—menunjukkan bahwa dialog tetap menjadi jalan terbaik dalam resolusi kritik publik.
Tegangan publik vs ketertiban sipil: Meskipun supremasi publik menjadi narasi aksi, sisi ketertiban sipil dan keamanan juga tak kalah penting agar aspirasi dapat disampaikan tanpa kekerasan.
4. Bandingan dengan Demonstrasi Sebelumnya
| Tahun / Aksi | Pengamanan | Hasil |
|---|---|---|
| 1 Sep 2025 (Aliansi Rakyat Aceh) | 1.096 gabungan & 150 Satpol PP | Dialog dan penandatanganan petisi |
| 23 Agu 2024 (API‑Demokrasi) | Polisi bubarkan paksa, gas air mata | Ricuh dan pembubaran paksa |
Aksi tahun 2025 mencerminkan pendekatan lebih presisi dan inklusif dibanding peristiwa sebelumnya yang berujung kekerasan.
5. 1.096 Petugas Gabungan Simbol Ketertiban dan Harapan
Kondisi di depan gedung DPRA pada 1 September 2025 menunjukkan bahwa dengan perencanaan matang dan kesiagaan maksimal, demonstrasi bisa berjalan damai. Karakteristik aksi pun menunjukkan perubahan: dari yang semula bersifat konfrontatif menjadi lebih menekankan dialog dan kehormatan aspirasi.
Kesimpulan
Pengamanan oleh 1.096 petugas gabungan bukan semata soal kekuatan fisik, melainkan wujud tanggung jawab negara terhadap penyampaian aspirasi publik. Dialog antar pihak—dengan DPR Aceh terbuka menerima tuntutan dan menandatangani petisi—menjadi bukti bahwa jalur demokrasi tetap menjanjikan jalan keluar. Pendekatan seperti ini dapat menjadi model bagi aksi-aksi publik berikutnya agar terjaga kestabilan sekaligus menjunjung tinggi suara masyarakat.








